Ibu kota yang kukira menjanjikan semua impian ternyata hanya sebuah kenyataan pahit yang harus kuhadapi. Aku hanyalah gadis desa yang mencoba mencari keberuntungan, memperjuangkan nasib, tapi kenapa aku harus akhiri kegadisanku, membuka jilbabku demi sesuap nasi.
Bertahun-tahun aku menghabiskan waktu di lembah hitam ini. Rupiah memang selalu mengalir bagai air turun dari langit tapi entahlah rupiah itu juga mudah sekali lenyap dari genggaman bagaikan debu tertiup angin, mungkin karena aku mendapatkannya ya dengan cara tidak halal. Pernah terpikir untuk meninggalkan semua kemewahan semu ini. Tapi, aku tak tahu lagi pekerjaan apa yang dapat aku lakukan kecuali memanfaatkan wajahku ini untuk mendapatkan rupiah dari pria hidung belang.
''Presti, ada yang cari kamu,'' kata Run. ''Siapa sih malam-malam begini, kan udah tahu Selasa aku libur,'' jawabku ketus sambil membuka pintu. Kulihat sepasang mata menatapku dengan melas. ''Maaf Anda siapa?'' Dia hanya diam, lalu memelukku erat sambil menangis. Air matanya membasahi baju tidurku. Aku membalas pelukannya, dia semakin erat memelukku.
From: http://ping.fm/QVM35
Bertahun-tahun aku menghabiskan waktu di lembah hitam ini. Rupiah memang selalu mengalir bagai air turun dari langit tapi entahlah rupiah itu juga mudah sekali lenyap dari genggaman bagaikan debu tertiup angin, mungkin karena aku mendapatkannya ya dengan cara tidak halal. Pernah terpikir untuk meninggalkan semua kemewahan semu ini. Tapi, aku tak tahu lagi pekerjaan apa yang dapat aku lakukan kecuali memanfaatkan wajahku ini untuk mendapatkan rupiah dari pria hidung belang.
''Presti, ada yang cari kamu,'' kata Run. ''Siapa sih malam-malam begini, kan udah tahu Selasa aku libur,'' jawabku ketus sambil membuka pintu. Kulihat sepasang mata menatapku dengan melas. ''Maaf Anda siapa?'' Dia hanya diam, lalu memelukku erat sambil menangis. Air matanya membasahi baju tidurku. Aku membalas pelukannya, dia semakin erat memelukku.
From: http://ping.fm/QVM35
